Home / Bolaang Mongondow Raya / Bolmut / Telusuri Masa Lalu, Ma’rifat Mokapog Kaji Budaya

Telusuri Masa Lalu, Ma’rifat Mokapog Kaji Budaya

NewsIntisari – Komunitas literasi Ma’rifat Mohokapogu (MM) menggelar kongkow kajian budaya, Sabtu (17/4/2021).

Kegiatan itu dilaksanakan di pondok perkebunan Dupola, desa Tote Kecamatan Bolangitang Barat.

Kegiatan yang dihadiri oleh anggota komunitas literasi itu mengangkat tema tentang eksistensi kearifan budaya lokal di Bolmut.

Kajian bertema kebudayaan tersebut dikemas dalam suasana sederhana di puncak gunung, dirangkaikan dengan buka puasa bersama.

Ketua Pelaksana kajian Ridwan Lasamano, memaparkan komunitas itu merupakan sebuah gerakan kebudayaan yang digagas oleh generasi muda.

“Di era digitasi, kita tak boleh melupakan akar budaya, negeri ini kaya dengan warisan kebudayaan, sayang jika berlalu tanpa perhatian generasi muda,” ujarnya.

Ridwan menuturkan, beberapa aspek kebudayaan lokal seperti adat istiadat, bahasa, tradisi lisan, kepercayaan, teknologi tradisional, dan lain-lain, pernah ada di daerah ini.

“Bahkan aspek kebudayaan ini juga diatur dalam regulasi tentang objek pemajuan kebudayaan, artinya negara juga perhatian terhadap kebudayaan,” bebernya.

Tentang nama Ma’rifat Mokapog, menurut Ridwan Ma’rifat adalah pengetahuan, sedangkan Mohokapogu berasal dari bahasa lokal dengan kata dasar “Kapogu” artinya Lebat dan padat, diberi imbuhan prefiks menjadi Mohokapogu.

“Ma’rifat Mohokapogu, ini gerakan kebudayaan yang akan menelusuri dan mengkaji warisan kebudayaan di Bolmut, khususnya di Kaidipang dan Bolangitang,” tegaanya.

Komunitas ini lanjutnya, sudah terdaftar pada Balai Bahasa Provinsi Sulut.

“Secara resmi kita telah masukkan data komunitas ini pada Balai Bahasa provinsi Sulawesi Utara, sebagai sebuah komunitas literasi yang bergerak di bidang kebudayaan,” tandasnya.

Salah satu anggota komunitas yang hadir, Chandriawan Datuela, membeberkan kekaguman tersendiri terhadap warisan budaya Kaidipang dan Bolangitang, yang mengandung keluhuran nilai tinggi.

“Kebanggaan bagi kami generasi bahwa di daerah ini banyak warisan budaya yang bernilai tinggi, ini akan menjadi objek kajian kita dalam komunitas ini,” ujar Chan.

Sementara itu, Albar Stion, yang juga anggota komunitas mengungkapkan tentang salah satu unsur budaya yaitu bahasa Kaidipang.

“Bahasa Kaidipang, Bolangitang harus lestari, karena Bahasa adalah aspek pokok dari sebuah kebudayaan, sementara hari ini jumlah penuturnya makin hari makin sedikit,” ujar Albar.

Tidak hanya bahasa daerah, tapi ada banyak warisan kebudayaan, termasuk tradisi bersastra yaitu Sosukito (Dongeng), Singgoboli (Legenda), Legeru (Pantun), Lelesa (Syair) dan lain-lain yang akan menjadi objek kajian komunitas Ma’rifat Mohokapogu.

“Kedepan, komunitas ini akan terus melakukan kegiata-kegiatan serupa,” tandas Albar.

(f-09)

Bagikan Berita ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*