Home / Gorontalo / Kota Gorontalo / Islam Nusantara

Islam Nusantara

Oleh : Fathan Boulu, S.Ag, M.Pd

Bangsa ini tidak bisa ditipu, karena orangnya pintar-pintar dan kaya-raya.

Fathan Boulu, S.Ag, M.Pd

Cerita surga di Jawa itu tidak laku. Surga itu dalam penggambaran Alquran: “tajri min tahtihal anhaar” (airnya mengalir), seperti kali. Kata orang disini: “mencari air kok sampai surga segala? Disini itu, sawah semua airnya mengalir.” Artinya, pasti bukan itu yang diceritakan para ulama penyebar Islam.

Cerita surga tentang buahnya banyak juga tidak, karena disini juga banyak buah. Artinya dakwah disini tidak mudah.

Ketika menyebut pangeran, orang Jawa sudah punya Sang Hyang Widhi.

Ketika menyebut Ka’bah, orang Jawa sudah punya stupa, sama-sama batunya dan tengahnya sama berlubangnya.

Dijelaskan menggunakan tugu Jabal Rahmah, orang Jawa punya Lingga Yoni.

Dijelaskan memakai hari raya kurban, orang Jawa punya peringatan hari raya kedri. Sudah lengkap.

Islam datang membawa harta-benda, orang Jawa juga tidak doyan. Kenapa?

Orang Jawa pada waktu itu beragama hindu. Hindu itu berprinsip, yang boleh bicara agama adalah orang Brahmana, kasta yang sudah tidak membicarakan dunia.

Dibawah Brahmana ada kasta Ksatria, seperti kalau sekarang Gubernur atau Bupati. Ini juga tidak boleh bicara agama, karena masih ngurusin dunia. Dibawah itu ada kasta namanya Wesya (Waisya), kastanya pegawai negeri. Kasta ini tidak boleh bicara agama.

Di bawah itu ada petani, pedagang dan saudagar, ini kastanya Sudra. Kasta ini juga tidak boleh bicara agama.

Jadi kalau ada cerita Islam dibawa oleh para saudagar, tidak bisa dterima akal. Secara teori ilmu pengetahuan ditolak, karena saudagar itu Sudra dan Sudra tidak boleh bicara soal agama.

Kalau ada yang bilang Islam dibawa saudagar, ini karena saking bingungnya memahami Islam di Indonesia.

Dibawah Sudra ada kasta Paria, yang hidup dengan meminta-minta, mengemis. Dibawah Paria ada pencopet, namanya kasta Tucca. Dibawah Tucca ada maling, pencuri, namanya kasta Mlecca. Dibawahnya lagi ada begal, perampok, namanya kasta Candala.

Anak-anak muda NU harus tahu. Itu semua nantinya terkait dengan Nahdlatul Ulama. Akhirnya para ulama ingin, ada tempat begitu bagusnya, mencoba diislamkan. Ulama-ulama dikirim ke sini.

Namun mereka menghadapi masalah, karena orang-orang disini mau memakan manusia. Namanya aliran Bhirawa. Munculnya dari Syiwa. Mengapa ganti Syiwa, karena Hindu Brahma bermasalah. Hindu Brahma, orang Jawa bisa melakukan tetapi matinya sulit. Sebab orang Brahma matinya harus moksa atau murco.

Untuk moksa harus melakukan upawasa. Upawasa itu tidak makan, tidak minum, tidak ngumpulin istri, kemudian badannya menyusut menjadi kecil dan menghilang. Kadang ada yang sudah menyusut menjadi kecil, tidak bisa hilang, gagal moksa, karena teringat kambingnya, hartanya. Pada akhirnya menjadi Jenglot atau batara karang.

Jika anda menemukan jenglot ini, jangan dijual mahal karena itu produk gagal moksa.

Pada akhirnya, ada yang mencari ilmu yang lebih mudah, namanya ilmu Ngrogoh Sukmo (keluar sukma). Supaya bisa mendapat ilmu ini, mencari ajar dari Kali. Kali itu dari Durga. Durga itu dari Syiwa, mengajarkan Pancamakara.

Supaya bisa Ngrogoh Sukmo, semua syahwat badan dikenyangi, laki-laki perempuan melingkar telanjang, menghadap arak dan makan daging manusia.

Supaya syahwat bawah perut tenang, dikenyangi dengan seks bebas. Sisa-sisanya sekarang ada di Gunung Kemukus.

Supaya perut tenang, makan tumpeng. Supaya pikiran tenang, tidak banyak pikiran, minum arak. Agar ketika sukma keluar dari badan, badan tidak bergerak, makan daging manusia. Maka jangan heran kalau muncul orang-orang macam Sumanto.

Ketika sudah pada bisa Ngrogoh Sukmo, ketika sukmanya pergi di ajak mencuri namanya Ngepet. Sukmanya pergi diajak membunuh manusia namanya Santet. Ketika sukmanya diajak pergi diajak mencintai wanita namanya Pelet. Maka kemudian di Jawa tumbuh ilmu santet, pelet dan ngepet.

Ada 1.500 ulama yang dipimpin Sayyid Aliyudin habis dimakan oleh orang Jawa pengamal Ngrogoh Sukma. Untuk menghindari pembunuhan lagi, maka Khalifah Turki Utsmani mengirim kembali

Bersambung…

Bagikan Berita ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*