Home / Gorontalo / Kota Gorontalo / Sufisme Dan Kapitayanisme Perspektif Budaya Islam Gorontalo

Sufisme Dan Kapitayanisme Perspektif Budaya Islam Gorontalo

Oleh : Fathab Boulu, S.Ag, M.Pd, (Aktivis NU Gorontalo)

Fathan Boulu, S.Ag, M.Pd

Pada tataran ini, tarian ritual Dayango menyerupai praktik Kapitayanisme yang berlaku pada masyarakat Jawa Kuno. Sebagai contoh ritual Mopo’a Huta (memberi makan pada tanah), sebuah paktek ritual yang sering dilakukan ketika musim kemarau, terutama masyarakat yang hidupnya bergantung pada hasil pertanian. Dengan melaksanakan ritual Mopo’a Huta, diyakini hujan akan turun yang membawa kesuburan serta kemakmuran bagi masyarakat. Sejak ratusan tahun yang silam kegiatan ritual semacam ini sering dilakukan oleh para leluhur Gorontalo, akan tetapi dewasa ini mulai ditentang oleh kaum agamawan karena dianggap syirik.

Dalam praktiknya, ritual Mopo’a Huta digelar dengan tarian Dayango yang diiringi tabuhan gendang (towohu) selama beberapa malam. Puncak ritual digelar sesajian yang terdiri dari bahan-bahan tertentu untuk dipersembahkan kepada mahluk gaib penguasa alam.

Menyikapi fenomena tersebut para sejarawan Gorontalo menolak asumsi bahwa masyarakat Gorontalo pada masa lampau adalah penganut animisme dan dinamisme. Wantogia, seperti dikutip Sirajudin Ismail, menyatakan bahwa orang Gorontalo tidak pernah menyembah batu, gunung, pohon, atau air karena sejak semula mereka percaya terhadap Tuhan Yang Esa. Menurut Wantogia, orang Gorontalo pada zaman kuno hanya sebatas percaya pada roh halus yang bersemayam dalam benda-benda alam tertentu tetapi tidak untuk disembah. Bukti yang ditunjukkan Wantogia adalah adanya falsafah berbahasa Suwawa-Gorontalo yang melukiskan sebuah postulat masyarakatnya: Taquwata to mita niya eya tuwawu loqu tuwawu liyo: Tuhan Maha Esa Sebenar-benarnya Esa (Niode dalam Ismail: 2014).

Pendapat Wantogia di atas dikuatkan oleh para pakar bahasa melalui analisis semantik bahwa kata “eya” dalam bahasa Gorontalo mempunyai kesamaan morfologis dengan “esa” yang menunjuk pada arti keesaan Tuhan. Kata “eya” juga memiliki kesamaan morfologis dengan lafaz Arab “iyyaahu” (hanya kepada-Nya); menggambarkan adanya korelasi antara budaya linguistik Gorontalo dengan term Islam (baca: al-Qur’an).

Namun demikian, kata “eya” secara etimologis sejatinya bermakna penghormatan berupa “tuan” atau “raja” seperti kalimat : Huta, huta lo ito eya (tanah, adalah tanah kepunyaan tuanku/raja); Taluhu, taluhu lo ito eya (air, adalah air kepunyaan tuanku/raja); Duputo, duputo lo ito eya (angin, adalah angin kepunyaan tuanku/raja); Tawu, tawu lo ito eya (manusia, adalah manusia kepunyaan tuanku/raja).

Kata “eya” dalam postulat bahasan Gorontalo diartikan sebagai “tuan raja” atau pemimpin masyarakat. Itulah sebabnya setiap menyebut kata eya si tuan raja akan mengacungkan jari telunjuk ke langit, yang mengartikan “pemilik alam semesta bukanlah raja melainkan Tuhan”. Jadi, kata eya secara artikulatif mengalami transformasi dari makna yang sesungguhnya kepada makna simbolik.

bersambung…

Bagikan Berita ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*