Home / Gorontalo / Kota Gorontalo / Sufisme Dan Kapitayanisme Perspektif Budaya Islam Gorontalo

Sufisme Dan Kapitayanisme Perspektif Budaya Islam Gorontalo

Oleh : Fathan Boulu, S.Ag, M.Pd (Aktivis NU Gorontalo)

Fathan Boulu, S.Ag, M.Pd

Secara sederhana menurut hemat penulis, hubungan antara bahasa dan agama tidak mesti dilihat sebagai hubungan kausalitas yang begitu cepat melahirkan identitas agama pada kurun waktu bersamaan. Sebab bahasa adalah simbolitas kebudayaan yang bersifat niscaya sebagai instrumen komunikasi sejak manusia ada. Dalam kurun waktu yang panjang sistem komunikasi berkembang dan alatnya pun berubah fungsi dari sekedar alat komunikasi ke arah fungsi sebagai alat kepercayaan (belive intrument). Maka boleh jadi apa yang disebut “eya” dalam bahasa kuno lebih berorientasi pada realitas kegaiban (roh-roh) atau energi-energi alam yang dipercaya memiliki pengaruh baik dan buruk terhadap kehidupannya. Dari sini timbul pemujaan sebagai penghormatan terhadap realitas ‘suci’ yang diyakini sebagai Tuhan. Pada konteks ini maka term “eya”, seiring waktu akan bergeser dari kepercayaan terhadap roh gaib kepada kepercayaan terhadap realitas Tuhan dalam arti yang sebenarnya, yakni “Tuhan Yang Esa”. Dugaan penulis, konstruksi kepercayaan semacam ini mulai terbentuk ketika masyarakat Gorontalo mulai mengenal agama Islam.

Teori ini mendukung fakta yang bisa ditemukan dalam kamus-kamus bahasa, bahwa secara morfologis terdapat banyak kosakata transformatif agama-agama. Misalnya kata “sembahyang” yang terbentuk dari kata sembah (tunduk/hormat) dan kata hyang (sesuatu yang dipuja alias dewa/dewi). Dalam tradisi Jawa Kuno, kata hyang digunakan untuk menyebut nama Tuhan yang berakulturasi dari budaya Hindu ke budaya Islam. Sebuah proses transformasi antara tradisi Kapitayan, Hindu dengan ajaran Islam. Penggunaan kosakata dalam wacana sastra suluk yang bernafaskan Islam yang diartikan sebagai jalan mistik (sufisme), menitikberatkan pada ajaran teologi sebagaimana Brahman dalam ajaran Hindu. Dalam konteks ini, terdapat hubungan antara sastra suluk sebagai media dakwah Wali Songo dalam proses pengislaman masyarakat Nusantara dengan tradisi-tradisi Hinduisme dan Kapitayanisme (baca: Jawa Kuno).

Kebanyakan kalangan sosiolog berpendapat bahwa proses Islamisasi masyarakat Nusantara pada umumnya terjadi melalui mistisme Islam (ajaran tasawuf) tinimbang ajaran tentang akidah dan syariah. Akar teorinya dapat dilihat dalam tradisi Jawa yang mengadopsi filsafat “Alam Idea” Platonisme. Rakyat jelata disebut sebagai “manusia bawah”, dipercaya merupakan reinkarnasi dari “manusia atas”, yakni para bangsawan/raja. Faham ini diperkuat oleh aliran-aliran sufisme yang berkembang di Jawa yang pada umumnya dianut oleh para kaum bangsawan seperti Ittihad Ibnu Arabi, Wahdat al-Wujud Abu Yazid Al-Bustami), dan Hulul Abu Mansur Al-Hallaj. Aliran-aliran tasawuf ini sudah ada sejak era Walisongo hingga era Hamzah Fansuri, Nur ad-Din Ar-Raniri, Syekh Ahmad Khatib, Syekh Nawawi al-Bantani, Syekh Kholil Bangkalan, dan seterusnya.

Profesor MC Ricklefs, seorang sejarawan Australia yang memiliki otoritas dalam sejarah Jawa, mengungkapkan bahwa corak Islam di Nusantara merupakan perpaduan antara mistik dan Islam yang disebut Mistical Sintesis. Ia meyakini relevansi corak Islam yang ada di Nusantara pada awalnya adalah sufisme, lalu berkembang ke masalah-masalah akidah dan fiqh.

Proses Islamisasi di Gorontalo pun tidak lepas dari kondisi serupa, bahwa sufisme menjadi approaching method dalam dakwah yang dipakai oleh para penyebar Islam di masa lampau. Term “eya” tidak sekedar dilihat sebagai sebuah transformasi morfologis, budaya atau pun sejarah, melainkan lebih pada fenomena-fenomena sufisme. Bahwa term eya dapat dipahami sebagai cakupan “mistical sintesis” yang merupakan gerbang utama masuknya Islam di Gorontalo.

Selesai.

Bagikan Berita ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*