Home / Gorontalo / Kota Gorontalo / Sufisme Dan Kapitayanisme Perspektif Budaya Islam Gorontalo

Sufisme Dan Kapitayanisme Perspektif Budaya Islam Gorontalo

Oleh : Fathan Boulu, S.Ag, M.Pd, (Aktivis NU Gorontalo)

Fathan Boulu, S.Ag, M.Pd

Agus Sunyoto, dalam Atlas Wali Songo dan buku fenomenalnya berjudul Wali Songo, Rekonstruksi Sejarah yang Disingkirkan menyebut kepercayaan masyarakat Nusantara dimasa lampau dengan “Tradisi Kapitayan”.

Kapitayan adalah agama yang dianut oleh masyarakat Jawa Kuno pada lapisan awam dengan karakteristik yang dominan sebagai pemuja roh dan alam supranatural. Suatu kepercayaan lama yang kemudian berasimilasi dengan ajaran Hindu Tandrayana atau yang disebut bairawa tandra yang dianut kalangan bangsawan. (Sunyoto, 2011)

Beberapa penulis sejarah lokal Gorontalo menyebut adanya kepercayaan etnis Gorontalo dimasa lampau sebagai pemuja roh dan kekuatan gaib suprantaural. Kepercayaan ini disebut animisme dan dinamisme, sebuah kepercayaan yang menyerupai Tradisi Kapitayan pada masyarakat Jawa Kuno. Tetapi istilah Kapitayan tentu kurang tepat untuk menyebut kepercayaan kuno masyarakat Gorontalo tersebut. Maka dalam tulisan ini penulis memakai istilah “kapitayanisme” karena kemiripan pada esensi dan praktik ritualnya.

Ada juga yang menyebut secara spekulatif tentang kebiasaan masyarakat Gorontalo di masa lampau yang gemar memakan binatang liar berupa babi yang melukiskan sebuah kebiasaan dalam tradisi agama Nasrani. Namun pendapat ini sulit dikonfirmasi secara ilmiah karena tidak adanya situs dan artefak-artefak Kristenisasi seperti manuskrip, prasasti, makam pendeta, gereja atau tokoh penyebar agama Nasrani di bumi Gorontalo.

Sangat disayangkan saat ini belum ada satu pun referensi yang otentik untuk mengungkap fakta kehidupan masa lampau tentang kepercayaan lama masyarakat tradisional Gorontalo.

Satu-satunya yang bisa diyakini adalah masih adanya ritual yang identik dengan tradisi Kapitayanisme seperti Alifuru sebagai sebuah kebiasaan masa lampau yang terus berlaku pada beberapa komunitas pedalaman Gorontalo hingga saat ini. Tradisi Alifuru adalah sebuah tarian ritual Dayango yang dilaksanakan dengan maksud tertentu, misalnya untuk mensyukuri hasil pertanian, mengusir kesialan dalam usaha, mengobati orang yang sedang sakit, dan atau tujuan-tujuan tertentu lainnya. Tarian ini diekspresikan sebagai bentuk pemujaan pada roh-roh gaib yang menempati alam semesta seperti gunung, lautan, pohon, batu, tanah, dan sebagainya.

Bersambung….

Bagikan Berita ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*